ARDAN BINGUNG
>>>Putri Raflessia<<<
Rasa penasaran tak lagi terjawab meskipun Rea telah
meneleponnya malam itu. Kasus marahan itu ditutup oleh Rea dengan alasan dia
percaya dengan Ardan. Rea kembali menggumamkan kata pantai di bibirnya.
“Kamu ada libur kah?”
“Nggak…” Ardan tau kalau sekarang mulut Rea pasti sudah
monyong beberapa senti.
“Terus kok ngajakin saya ke pantai?”
“Ya kalau memang mau pergi saya bakalan cari hari libur lah.”
Ardan tersenyum, gadis ini terlalu polos, terlalu lucu,
semua yang diucapkannya seakan benar-benar jujur dan tidak dibuat-buat. Nada bicaranya
selalu saja membuatnya tersenyum.
“Jangan ke pantai. Kamu tahu ka nada mahasiswa meninggal di
pantai.”
“Tahu…emangnya kita mau ospek di pantai?”
“Emang kamu mau saya ospeki?”
“Apa?”
“Emang saya apanya kamu kok diospek segala.”
“Kamu maunya jadi apanya saya?”
“Lhoh…yang mau ngospekin siapa? Ya panitia ospek dong yang
menentukan saya jadi apanya?”
Ardan tersenyum kembali mendengar Rea. Gadis itu selalu saja
bisa memancingnya lewat kata-kata. Ardan melemahkan suaranya untuk menjawab
pertanyaan Rea.
“Pacarku…”
“Apa?”
“Saya jadiin pacarku” suara Ardan masih saja kecil dan
sekarang putus…putus nggak jelas.
Sinyal waktu itu sedang tidak bersahabat dengan perbincangan
mereka.
“Apa sih? Suara kamu putus…putus SUMPAH”
“Nggak jadi, lupakan!” Nada suara Ardan kembali menguat dan
tidak lirih.
“Lho apa sih Mas, suara kamu memang beneran nggak jelas kok.”
“Nggak jadi, lupakan!”
Ardan belum yakin dengan perasaannya. Dia bingung. Dia sayang dengan
gadis polos itu, tetapi dia tidak tahu itu rasa sayang semacam apa. Ardan
mengurungkan kata-katanya dan dia yakin Rea sedang manyun karena dia tidak
mengulang kembali kata-katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar