Selasa, 19 November 2013

RINDU milik ARDAN


 RINDU milik ARDAN
>>>Putri Raflessia<<<

Ardan bolak-balik melihat ponselnya. Tidak juga berdering. Beberapa waktu lalu ia berjingkat dari depan Televisi menuju kamarnya ketika mendengar ponselnya berdering. Ardan berhasil meraih ponselnya dalam hitungan detik dan menhela nafas kecewa ketika melihat nama yang tertera di ponselnya bukan yang dia inginkan. Hampir lima hari ini dia selalu saja bersikap seperti itu, menunggu pesan singkat atau telepon dari Rea. Dan malam ini genap satu Minggu Rea tidak menghubunginya sama sekali. Biasanya pesan dari Rea tidak pernah absen nyangkut di inbox ponselnya dan biasanya dengan sangat mudah dia bisa mendengarkan suara Rea cuap-cuap membuat berisik ponselnya.

Ardan belum menyadari perasaannya. Setiap hari dia mengucapkan kalimat Tumben Rea betah banget nggak hubungin aku. Dia tidak mau mengakui bahwa ada rasa rindu di dalam hatinya. Meskipun lima hari itu dia berkali-kali memegang ponselnya dan berniat untuk menghubungi Rea terlebih dahulu untuk kemudian membanting ponselnya ke kasur dan mengacak-acak rambutnya. Sungguh Ardan belum menyadari perasaan itu.

Ardan meletakkan ponselnya di samping kepalanya. Ardan terdiam sejenak. Tubuhnya yang merebah di atas kasur dengan mata yang menatap atap. Dia mencari jawaban mengapa seminggu ini Rea tidak menghubunginya. Bahkan ponselnya telah berdering beberapa kali dan dia tidak menyadarinya.

Matanya membelalak membaca nama yang tertera di layar ponselnya ketika dia menyadari ponselnya berdering lagi. 

“Tumben…” Kata itu yang pertama kali diolah otaknya setelah mengucapkan salam. Padahal bukan itu yang ingin dia katakan.

“Apa?”

“Tumben nelfon?” Ardan masih melanjutkan kebodohannya dengan pertanyaan yang tidak penting.

“Bukankah aku sering nelfon kamu? Kalau kamu yang tiba-tiba nelfon aku malahan yang tumben.”

Ardan tersenyum. Padahal beberapa kali dia uring-uringan gara-gara Rea tidak menghubunginya dan dia tidak berani menghubungi Rea terlebih dahulu.

“Kemarin-kemarin sibuk kah?”

“Kenapa ngira saya sibuk?”

“Sekarang ‘kan kamu sudah kerja, kali aja sibuk.” Jelas sekali bukan ini jawaban yang sebenarnya. Ardan mengerutkan keningnya ketika menjawab pertanyaan Rea dengan jawaban ini. 

“Yakin jawabannya itu?” Rea mendesak jawaban yang sebenarnya.

“Emang maunya gimana?” sedikit gelagapan tetapi Ardan selalu tau bagaimana cara mengatasinya.

“Bukan maunya bagaimana, tetapi sebenarnya bagaimana.”

Yaaah…pastinya kau sudah tau kalau kau tidak menghubungiku seminggu ini dan kukira kau terlalu sibuk. Kalimat ini nyangkut di hati Ardan dan tidak mau keluar sama sekali. Ardan tersenyum mendengarkan suara Rea. Suara yang diam-diam mampu mengusiknya. Suara yang tanpa ia sadari membuatnya rindu.

RINDU milik REA


 RINDU milik REA
>>>Putri Raflessia<<<

Sebenarnya Rea telah membulatkan tekad untuk tidak menghubungi Ardan sampai tahun baru tiba. Dan itu berarti dia harus menahan rindunya selama satu bulan setengah untuk tidak mendengar suara lelaki itu. Lagi-lagi memang hanyalah sebuah tekad yang tidak dibarengi dengan kekuatan yang teguh. Jangankan satu bulan, satu minggu saja tekadnya sudah rontok. 

Rea mengangkat ponselnya dan menekan keypad itu, mencari sebuah nama “Ardan Jelek” yang jelas terpampang di urutan paling atas di kontaknya. Senyumnya melebar ketika suara di seberang sana menjawab salamnya. Masih saja jantungnya belum bisa mengatur debaran yang begitu cepat padahal mereka tidak sedang bertatap.

“Tumben?” Ardan meneruskan jawaban salamnya dengan sebuah pertanyaan.
“Apa?”

“Tumben nelfon?”

“Bukankah aku sering nelfon kamu? Kalau kamu yang tiba-tiba nelfon aku malahan yang tumben.”
“Kemarin-kemarin sibuk kah?”

Otak Rea berfikir cepat. Memang selama seminggu penuh dia sama sekali nggak menghubungi Ardan bahkan SMS pun tidak. Padahal biasanya tiap hari SMS Rea nyangkut di inbox Ardan. Rea tersenyum simpul.

“Kenapa ngira saya sibuk?” Rea mengerutkan kening. Sebenarnya dengan sangat jelas ia tahu jawabannya tetapi dia ingin tahu jawaban. Dan jelas jawaban Ardan tidak akan sama seperti yang ada di pikiran Rea. Rea sudah menduga dan sudah sangat hafal dengan lelaki itu.

“Sekarang ‘kan kamu sudah kerja, kali aja sibuk.”

Rea tersenyum “Yakin jawabannya itu?”

“Emang maunya gimana?”

“Bukan maunya bagaimana, tetapi sebenarnya bagaimana.”

“Sudah saya jawab gitu lo.”

“Oke!”

 Jawaban spontan ‘tak sebenarnya yang selalu saja dilontarkan Ardan dengan nada tenang selalu seja membuat Rea merindukannya. Rea terlalu menikmati hubungan jarak jauh mereka yang hanya terhubung sinyal. Rea terdiam beberapa saat. 


“Kenapa diam? Biasanya selalu ada saja yang dibicarakan?”

“Pengen denger kamu ngomong aja.”

Rea benar-benar merindukan suara di seberang sana. Ia hanya menempelkan ponselnya di telinga dan menanti kalimat berikutnya yang akan disambungkan oleh sinyal operator.

Sabtu, 05 Oktober 2013

HUBUNGAN DARI TUHAN


 HUBUNGAN DARI TUHAN
>>>Putri Raflessia<<<

Lagi meski hanya terhubung oleh sinyal yang tak pernah tahu bagaimana cara kerjanya menghubungkan suara mereka tetap saja hal itu membuat pipi Rea memanas memancarkan merah. Malam adalah waktu yang dia pilih untuk merepotkan sinyal mengantarkan pesan-pesan rindunya. Sebatas sapa, celotehan, curhatan, gosip, atau terkadang ada perasaan yang benar-benar ingin ia ungkapkan. Beberapa kali pertanyaan apakah ia mencintai Ardan itu kembali ditanyakan oleh suara di seberang telefon
.
Berapa kali kau tanya akan perasaanku kepadamu?
Sesungguhnya jauh sebelum kau bertanya aku telah memberitahumu.
Dan kini tinggal mata hatimu yang mengartikan dan menyimpulkan apa yang aku lakukan selama ini.

Jawaban iya dan tidak menurutnya tidaklah penting. Bahkan tiga pernyataan itu juga hanya disimpan di dalam hati. Dia lebih suka menimpali pertanyaan dengan pertanyaan. Mungkin sikap kolot yang dia punya adalah masalahnya. Baginya haruslah lelaki yang memulai berkata AKU MENCINTAIMU lalu bagaimana denganmu?

Detikan jarum jam menemani sinyal tak terlihat mengantarkan pesan rindu dua sejoli yang tak pernah bersua beberapa lama.

“Ada apa denganku? Kenapa kamu malam ini sensitif sekali kepadaku? Apa ada yang menjelek-jelekkanku?” Nada datar yang selalu saja terlontar dari suara Ardan.
“Kenapa harus menjelek-jelekkan orang yang sudah jelek?” Rea tersenyum sambil memeluk guling.
“Kalau orang jelek kenapa harus ditelfon?”
“Ya biarin…memangnya nggak boleh.”
“Kenapa harus nelfon orang jelek?” Ardan selalu saja mengulang pertanyaannya berkali-kali hingga dia mendapatkan jawaban yang membuatnya puas.
“Supaya orang jelek ini insyaf jadi orang yang baik karena ditelfon sama orang yang baik.”

Terdengar bunyi gelak tawa Ardan dan pasti senyum yang dulunya sering Rea lihat juga menghiasi rautnya. Tanpa sadar ujung bibir Rea juga tertarik menyimpulkan senyum.

“Ada apa? Ada gosip?” Rea mengerutkan kening mengorek kejujuran dari seseorang yang ia rindukan.
“Ya biasalah, comblangan lagi. Sama seperti saat aku sama kamu dulu.”
“Lalu? Jadi?”
“Enggak…”
“Masa’? Sumpah? Beneran?”
“Iya…kalau memang jadi telfon kamu nggak bakalan saya angkat.”

Bahkan jika Ardan berbohong pun Rea tak tahu. Tetapi pernyataan itu sedikit membuatnya lega dan memerahkan pipinya. Tuhan yang telah mengatur cerita di antara keduanya. Hubungan yang tak pernah tersebutkan apa jenisnya. Dan Rea yakin semua pasti akan diakhiri oleh Tuhan dengan hal yang terbaik.

Kamis, 08 Agustus 2013

HIJAB

HIJAB

yang narsis nampang duluan

Lophly Girl.....kayaknya yang namanya HIJAB emang lagi ngetrend pake banget di kalangan pecinta fashion... dari kecil sampe gedhe pada nyobain yang namanya hijab. Gue kecantol dari awalnya pengen berjilbab biasa >>>Biasa buat pengajian, Buat kondangan, Buat Foto aja, atau memang udah dapet sedikit hidayah walaupun belum sepenuhnya... Sekarang malah ngeborong Jilbab dan nguteg-nguteg cara pemakaian sampai nggak karuan.Plus download aneka tutorial GILA NGGAK TUH.....

Tapi berhubung banyak yang bilang ane lebih cantik kalo pake jilbab (padahal emang ane udah cantik dari orok) gue nggak pernah nyeselin beli bejuta Jilbab...Toh kalau nantinya gue nikah n suami gue nyuruh gue berjilbab Gue bakalan Bilang "SIAP BOSS SAYANG" 'kan kata Allah suruh nurutin kemauan suami... hehehehe.

Dan ini beberapa hasil uteg2 gue pake Jilbab...Don't Laugh...Masih Belajar
Ada dua lapis di atas kepala. mungkin kelihatan aneh. gue juga nggak tau kenapa bisa jadi kaya' gitu
Nah yang ini sih biasa aja jilbab paling simple... tinggal tarik...tarik...tarik... selesei daaaah


Gue Lupa gimana cara make' jilbab kaya' gini... awalnya ngikutin tutorial tapi kagak bisa... so gue uteg2 sendiri sampe' jadi kaya' gini :P

Pasmina pertama gue...dan taaaraaaaa...gue bisa make' (Bangga Banget)



Selasa, 30 Juli 2013

RASA #1


RASA #1
>>>Putri Raflessia<<<
Jantungnya memompa darah Rea hingga begitu deras hingga detaknya tak karuan. Ada rasa di hatinya yang belum pernah Rea rasakan sebelumnya. Bukan rasa sakit ataupun bahagia yang tiada tara yang membuatnya mampu membisu dalam beberapa saat. Lelaki yang duduk di ruangan itu bahkan tak melihat ada kehadirannya. Rea juga belum tahu namanya, dan apa jabatannya sehingga ada di ruangan itu. Tapi rasa itu mampu mengusik hatinya.

Tiga bulan di lingkungan kerja yang sama. Rasa itu mungkin rasa penasaran yang berubah menjadi suka. Rea tak berani menyebut cinta, karena takdir kehidupannya pada saat itu belum mengajaknya merasakan cinta pada lelaki asing. Ardan, Rea mengetahui namanya di mushola lingkungan kerjanya, saat beberapa orang dengan sengaja menyebut namanya. Otaknya sontak memerintahkan ujung bibirnya tertarik mengukir senyum.

Hampir setahun saat rasa itu menghampiri hati Rea dan Rea menyebutnya suka. Lelaki yang telah diketahui namanya dan sedikit perangainya masih saja menyisakan rasa dalam hatinya meski lama tak bersua. Rea tak pernah mengenal Ardan lewat tegur sapa atau perbincangan di lingkungan kerjanya. Justru ia mengenal lewat suara yang mengalir lewat sinyal. 

“Kata dia kamu suka aku?” hampir setahun dan tiba-tiba Rea tertodong dengan empat kata yang tak pernah ia sangka keluar dari mulut Ardan.

“Lalu apa tanggapanmu ketika dia bilang seperti itu?” Rea ingin sekali melontarkan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan Ardan, baginya ia perlu tahu mengapa Ardan tiba-tiba menanyakan itu. Rea perlu tahu apakah Ardan juga menyukainya. Tetapi kata “Bagaimana dengan dirimu, apakah kau menyukaiku?” tak mampu keluar dari mulutnya.

“Aku hanya tersenyum mendengar pernyataannya mengenai perasaanmu. Apakah yang dikatakannya benar adanya?”

“Enaknya gimana?” 

Ada bulir menetes menuruni pipi Rea. Bulir itu tiba-tiba saja mengalir di sela-sela sholatnya. Mungkin ia merasa berdosa karena dalam sholatnya otaknya tak mau berkompromi dan masih terisi semua kata dari Ardan dalam harinya setahun terakhir. 

“Allah maafkan aku jika ia mengisi hati dan otakku hingga mengganggu ibadah ini. Bukanlah kemauanku, tapi aku sungguh tak mampu mengendalikan rasa dalam hati dan otakku.”

Nganjuk, 30 Juli 2013

RASA #2


RASA #2
>>>Putri Raflessia<<<

Sebenarnya hatinya yakin bahwa perhatian Rea bukan hanya sekadar perhatian seorang teman.Sosok asing yang bahkan hanya dikenalnya satu bulan terakhir sebelum Rea mengakhiri tugasnya di lingkungan kerja yang sama dengannya. Tapi dia tak mau menganggap perhatian itu. Gadis yang telah mengisi hatinya adalah alasan ia hanya mampu menanggapi setiap rumor dengan senyuman. 

Satu kota bukan berarti bisa bersua dengan leluasa. Ardan tak pernah berpikir ia dapat bertemu dengan Rea, setelah mereka tak berada di lingkungan kerja yang sama. Sinyal masih sering mengabarkan suara mereka. Satu waktu kunjungan Rea membuat mulut Ardan terkunci rapat. Mulutnya tak mampu berkata sepatah katapun. Matanya memandang gadis yang beberapa hari lalu masih berbicara dengannya melalui ponsel. Ada rasa yang hinggap di hatinya. Dia menepis kuat-kuat, mungkin hanya sekadar nafsu karena dia baru saja putus dengan gadis yang dicintainya.

Ardan terdiam memikirkan perkataan temannya mengenai Rea. Meskipun dia sebenarnya yakin rasa cinta itu ada pada hati Rea. Tapi seribu bimbang menghampiri hatinya. Baginya sangat ganjil tiba-tiba mengatakan ada rasa di hatinya setelah hampir satu tahun mereka mengenal dan Ardan masih tetap menjadi pribadi yang dingin tak banyak omong. Disahutnya ponsel, menekan nomor Rea, untuk mengklarifikasi ucapan temannya. Seorang perempuan dengan gaya khasnya menyahut “Ini adalah layanan kotak suara XL untuk meninggalkan pesan tekan tanda bintang, nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah beberapa saat lagi”.

Keesokan harinya beberapa kali pesan masuk ke ponsel Ardan, namun tak digubris. Entah perasaan marah ataukah ia masih menata rasa di hatinya. Hari berikutnya ketika ada pesan menanyakan perihal telefonnya kapan hari, ia hanya menjawab tidak apa-apa.

“Kata dia kamu suka aku?” Ardan bertanya dengan sedikit bimbang. Apakah keputusannya benar pada saat itu untuk menanyakan hal tersebut. Akan tetapi baginya telefon dari Rea malam itu adalah kesempatannya untuk bertanya.

“Lalu apa tanggapanmu ketika dia bilang seperti itu?” Rea melontarkan pertanyaan setelah sedikit tertawa.

“Aku hanya tersenyum mendengar pernyataannya mengenai perasaanmu. Apakah yang dikatakannya benar adanya?”

“Enaknya gimana?” ini bukanlah jawaban yang diinginkan Ardan. Menurutnya kata lain yang dapat menenangkan hatinya harus keluar dari mulut Rea.

“Kalau perasaan itu bukan enak atau nggak enak, tetapi bagaimana yang sebenarnya?” Ardan meluruskan tanggapan Rea.

“Kenapa kapan hari kamu telefon?”

“Untuk memastikan perkataan dia benar atau tidak. Lalu bagaimana apakah benar rasa itu kau miliki?”

Nganjuk, 30 Juli 2013